BARABAI – Musibah Banjir di Kalsel khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) tentunya menyisakan cerita pilu bagi Wawan.
Wawan yang merupakan guru honorer di SDN Baru, Kecamatan Batu Benawa. Kendati telah mengabdi selama 12 tahun, nyatanya ia hanya berpenghasilan Rp 600 ribu per bulan. Sehingga, untuk menambah pundi-pundi keuangan, Wawan membuka warung di rumahnya.
Musibah Banjir ini sendiri, selain membuat sekolah tempat ia mengabdi mengalami kerusakan, juga mengakibatkan warung kecilnya rusak cukup parah. Alhasil, ia tidak dapat bekerja untuk menafkahi keluarganya.
“Semenjak musibah banjir, saya tidak memunyai penghasilan lantaran sekolah yang tutup dan penghasilan yang menghilang. Serta rumah saya beserta isinya pun hanyut oleh Banjir bandang,” kata Wawan saat ditemui di Desa Baru, Rabu (3/2/21).
Kondisi sekolah tempat Wawan mengajar pun cukup berantakan, pasca musibah Banjir bandang beberapa waktu lalu.
Saat tim ACT-MRI Kalsel menyambangi sekolah ini, para guru membersihkan ruang-ruang yang penuh dengan lumpur.
“Di depan sekolah ini, terdapat banyak piala, buku-buku, dan surat surat yang posisinya berhamburan dan bercampur dengan tanah,” imbuh Wawan.
Beruntung, Wawan mendapatkan bantuan paket pangan dari program Sahabat Guru Indonesia – ACT.
Dalam aksi yang dilakukan relawan ACT-MRI Kalsel pada Hari Rabu 3 Februari tercatat ada 4 kepala keluarga dan 16 jiwa yang mendapatkan manfaat paket pangan ini.
“Kita tentu prihatin dengan musibah Banjir bandang di Kabupaten HST yang berdampak pada guru di SDN Baru tersebut. Terutama para guru honorer yang mengabdi cukup lama,” tutur Kepala Cabang ACT Kalsel, Zainal Arifin.
Banjir di Kab. HST" width="1280" height="853" />Zainal pun mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk mengulurkan tangannya dan membantu para penyintas Banjir di Kabupaten HST.
Khususnya untuk para guru terdampak banjir, agar dapat kembali bangkit dan mengajar kembali di sekolah. []
Penulis: Devi Erliani
Redaktur: Ananda Perdana Anwar
Sumber : poroskalimantan.com











Komentar