Banjarmasin – Antropolog Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Setia Budhi Drs H Setia Budhi MSi PhD menilai, praktik money politic berpotensi meningkat pada Pilkada 2020 karena digelar di tengah pandemi Covid-19. Ditengah kondisi pandemi ini ekonomi masyarakat sedang kurang baik maka potensi money politic juga bisa tinggi dibanding kondisi pada pilkada-pilkada sebelumnya. Ada relasi antara kondisi ekonomi dengan misalnya pemberian uang para calon yang akan bertarung dalam Pilkada.
“Bahwa pandemi Covid-19 pendapatan masyarakat berkurang. Bahkan tidak sedikit pula yang harus kehilangan pekerjaan atau PHK, sehingga praktik politik uang dalam Pilkada Serentak 2020 diprediksi meningkat,” katanya Sabtu (5/9/2020).
Kata Budi, politik uang dimasa pandemi bisa saja terjadi berupa pembagian uang, pembagian sembako, dan pembagian voucher. Bantuan alat kesehatan, alat pelindung diri (APD) terhadap covid-19.
“Oleh sebab itu Tanggung jawab partai politik dan masyarakat. Apabila masyarakat menyatakan tidak mau menerima misalnya serangan fajar, iu bentuk budaya menolak praktik money politic,” ujarnya..
Penting adanya pencegahan dini potensi politik uang, Bawaslu semakin kuat perannya dan masyarakat juga penting untuk membangun zona integritas anti politik uang. Sebab bagaimana pun praktek poltik uang tetap pada akhirnya akan menjadi beban para pemilih. Jadi ketika kita melenyapkan poltitik uang itu sama artinya kita ingin melenyapkan praktek korupsi dalam penyelenggaraan negara. anang











Komentar