oleh

Tuduhan di Era Pandemi Covid-19

Oleh : Pribakti B

Pandemi Covid-19 memiliki dampak luar biasa bagi perubahan kehidupan bangsa ini. Covid-19 tidak mengenal pangkat, kasta, suku, agama, ras, pekerjaan. Virus Covid-19 “menebang” semuanya tanpa pandang bulu. Tidak terkecuali tenaga kesehatan, mereka yang mendalami ilmu medispun tidak serta merta kebal dan selamat dari ancaman Covid-19. Menurut tim gugus tugas penanganan Covid-19 dari data terakhir di Indonesia terdapat 55 tenaga medis yang gugur akibat ‘ganasnya’ Covid-19. Dan dari 100 kematian  di Indonesia akibat Covid-19 terdapat 6-7 orang tenaga medis. Sementara di RSUD Ulin Banjarmasin dilaporkan sebanyak 46 tenaga kesehatan  yang  dirawat inap sampai pertengahan bulan Juni 2020.

Memang risiko  tertular sudah diduga  karena bagaimanapun tenaga medis mau tidak mau akan terpapar oleh pasien Covid-19 yang tidak menampakkan gejala. Ibarat fenomena ping pong infection, sekali dua kali terpapar masih bisa dilawan oleh imunitas tubuh akan tetapi setelah sekian kali terpapar dan saat imunitas tenaga medis turun, ia akan teinfeksi Covid-19 terlebih bila tidak didukung Alat Pelindung Diri (APD). Sungguh sebagai tenaga medis yang merawat para pasien yang suspek maupun positif korona adalah garda terdepan dalam berperang melawan virus mematikan ini, maka tak berlebihan jika mereka dijuluki pahlawan kemanusiaan.

Di tengah pandemi korona ini mereka harus merawat pasien agar sembuh dengan menggenakan APD yang berlapis-lapis. Bahkan untuk makan, minum dan buang hajat juga sangat sulit. Merekapun harus jauh dari keluarga agar tidak menjadi carrier atau pembawa virus yang bisa mengancam keselamatan jiwa anggota keluarganya. Inilah tantangan dan risiko pekerjaan tenaga kesehatan di lapangan. Baik dokter, perawat, bidan adalah manusia yang sama halnya juga dengan yang lain punya rasa ketakutan tertular Covid-19.

Baca Juga  Aktor Politik dan Perebutan Hegemoni Sumber Daya Lokal

Ada banyak kisah sedih para tenaga medis berjibaku dengan Covid-19 di jantung pertahanan di rumah sakit dan juga puskesmas. Kisah seorang dokter perempuan di salah satu puskesmas di Depok, terinfeksi Covid-19 dan harus terpisah dari anaknya yang berusia 1,5 tahun. Seorang dokter pria gugur akibat Covid-19 padahal sebentar lagi menuju pelaminan. Di Surabaya, kisah sedih seorang perawat yang gugur akibat Covid-19 di tengah kehamilan 4 bulan dan seorang residen  yang lagi menekuni ilmu penyakit dalam ikut jadi korban . Begitu juga di Sampang , sekeluarga bapak yang profesinya perawat, ibu bidan dan anak dokter tumbang karena ganasnya covid-19.  Terakhir dilaporkan 22 dokter residen FK Unair di RSUD Dr Soetomo Surabaya terjangkit covid 19.

Sayangnya di tengah jatuh bangunnya tenaga kesehatan berjuang menyelamatkan nyawa orang lain dan tidak menjamin keselamatan dirinya sendiri, di luar sana imajinasi publik dirusak oleh pemberitaan yang tidak benar. Dokter dituduh mendapat bonus puluhan hingga ratusan juta bila membuat klaim kematian pasien dengan diagnosis Covid-19. Seakan tenaga medis mendapat berkah dari pandemi covid ini. Isu miring lain adalah tenaga medis lebih diuntungkan nasibnya apabila dibanding dengan profesi atau pekerjaan lain karena dikatakan besaran insentif pemerintah untuk para tenaga medis yang menangani Covid-19.

Baca Juga  Covid-19 dan Tingginya Kematian Dokter

Seperti yang disampaikan  pemerintah besaran insentif tenaga kesehatan sebagai berikut: dokter spesialis 15 juta, dokter umum dan dokter gigi 10 juta, bidan/perawat 7,5 juta dan tenaga kesehatan lain 5 juta. Selain itu, akan ada santunan kematian sebesar Rp 300 juta bagi tenaga medis yang meninggal karena tertular korona.

Namun kenyataannya hingga saat ini pemerintah belum mengganti pembiayaan pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit maupun di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Padahal kalau mengacu pada Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular, UU No. 36/2009 tentang Kesehatan dan UU No. 6/2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, pembiayaan penyakit yang telah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) atau wabah sepenuhnya ditanggung oleh Pemerintah.

Sedihnya pula publik belum banyak yang tahu beban pelayanan tenaga medis di era pandemic Covid-19. Bagaimana panas yang dirasakan ketika menggunakan APD berjam-jam dengan masker N95 ketat ditambah  saat melakukan operasi pasien Covid-19 yang rata-rata memakan waktu dari persiapan operasi hingga selesai operasi berdurasi sekitar 3-4 jam. Belum lagi  merasakan tekanan psikologi ketika pasien datang dalam jumlah banyak dan diagnosis PDP Covid-19 yang melebihi daya tampung IGD dan ruangan rawat inap.

Di sisi lain meskipun dikatakan lelah, belum ada satu pun tenaga medis yang menuntut janji pemerintah terkait insentif ini untuk segera direalisasikan. Ini karena tenaga medis juga memahami bagaimana beban negara sangat berat dan masih banyak pula rakyat yang terdampak akibat Covid-19. Inilah yang dinamakan sikap altruisme, kerelaan yang sungguh-sungguh tidak semata mendapat imbalan. Yang diharapkan oleh tenaga medis di lapangan pengabdian ialah sebuah pengertian dari pemerintah dan masyarakat.

Baca Juga  Pengurangan Wewenang Standar Perizinan Berusaha dalam UU Cipta Kerja

Pemerintah harus memiliki kepekaan, turun menyerap aspirasi tenaga medis hingga level terbawah. Sekali waktu kami berharap orang-orang pemerintahan atau pemangku kebijakan mengunjungi Instalasi gawat darurat rumah sakit rujukan Covid-19 untuk sekedar mengamati dengan seksama secara langsung . Bagaimana beratnya  tenaga medis memberikan pelayanan di era pandemi Covid-19 terutama beberapa rumah sakit yang sudah jebol pertahanannya, overload karena banyaknya kasus Covid-19. Para pemangku kebijakan sebaiknya juga tidak melakukan akrobat politik di tengah pandemi yang justru akan memperparah dan memperlama pandemi.

Jujur tuduhan -tuduhan ini sangat melukai hati para tenaga medis. Pengertian yang diharapkan tenaga medis kepada masyarakat ialah bersikap patuh terhadap protokol kesehatan yang dibuat oleh pemerintah sebagai bentuk bela negara. Sesungguhnya perang melawan covid ini akan berakhir bila masyarakat menyadari betul perannya sebagai garda terdepan pencegahan covid-19. Dan hanya perjuangan kolektif masyarakat  yang sungguh-sungguh akan memperingan tugas tenaga medis di garda terdepan penanganan covid-19. Semoga.

Dokter  RSUD Ulin Banjarmasin

Komentar

News Feed