oleh

Tak Miliki Ponsel, Guru di Banjarmasin Mengantar Materi Pelajaran ke Rumah Siswa

Banjarmasin, BARITO – Belajar tatap muka di sekolah-sekolah di Banjarmasin hingga kini masih belum bisa dilakukan meskipun beberapa kelurahan di Kota Seribu Sungai ini sudah menunjukan zona hijau covid-19.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Totok Agus Daryanto, mengatakan, zona hijau di kota ini hanya baru enam kelurahan setelah tahapan proses. Jumlah itu tegas Totok tidak jaminan aman dari penularan covid-19, pasalnya domisili siswa tidak pasti dilingkungan satu kelurahan.

“Kami belum bisa menjalankan belajar tatap muka, karena masih banyak zona merah di Banjarmasin secara keseluruhan,” bebernya saat di temui di Balai Kota Banjarmasin, Rabu (22/7).

Totok melanjutkan, pihaknya akan mengevaluasi lagi apabila di Banjarmasin secara keseluruhan berada di zona hijau. Itu kemungkinan akan segera diperbolehkan belajar tatap muka. “Kalau sudah hijau kenapa tidak untuk belajar tatap muka,” tuturnya.

Diakui Totok, sistim belajar daring dan atau belajar jatak jauh ini menjadi keluhan orang tua siswa di rumah. Disamping kesibukan di rumah tangga, orang tua beralasan kesulitan mengajarkan anak-anaknya.

“Banyak orang tua yang melapor ke kita, ya apa boleh buat. Kami hanya bisa meminta agar para orang tua bersabar dan semoga zona hijau di Banjarmasin segera menyeleruh,” tuturnya.

Sebelumnya, Totok juga mengaku tidak memberikan tugas yang berat untuk disampaikan ke siswa sekolah. Jadi dalam PJJ Disdik meminta kepada sekolah-sekolah agar memberikan tugas yang dasar saja, seperti baca tulis berhitung.

“Ya diharapakan kita semua bersabar ini sudah ketentuan pemerintah agar terhindar dari covid-19,” bebernya.

Ditanya tentang siswa yang tidak memiliki android dalam menjalankan tugas daring. Totok mengatakan, sistem PJJ tidak melulu dengan android atau gadget lainnya. Alternatifnya, tugas bisa saja langsung diambil ke sekolah atau gurunya yang mengantarkan ke rumah siswa. Kemudian, siswa juga bisa mengerjakan tugas bersama temannya dengan android.

“Kalau tidak ada android bisa saja belajar bersama temannya yang memiliki android. Atau ambil soalnya di sekolah,”cetusnya.

Sistem PJJ, juga disebut Totok, tidak memaksa sekolah harus menyelesaikan kurikulum ajar mengajarnya. Yang terpenting esensial belajarnya telah disampaikan ke siswa. “Sekolah tidak wajib menyelesaikam kurikulumnya,” tutupnya.

Penulis: Hamdani/baritopost.co.id

Komentar