oleh

Refleksi Hari Raya Idul Adha: Sudahkah Kita Berkorban ?

oleh Pribakti B *)

Bayangkan Anda sudah lama sekali kepingin mempunyai anak; kemudian setelah hampir putus asa, Allah menganugerahi Anda seorang anak yang luar biasa cantik. Anak itu kemudian tumbuh sebagai anak yang baik dan pintar. Kemudian setelah menginjak remaja, tiba-tiba anak Anda itu meninggal. Bagaimana kira-kira perasaan Anda?

Seperti diketahui Nabi Ibrahim-alaihis salaam (a.s)- sudah lama ingin mempunyai anak dan baru ketika sudah sangat tua, Allah menganugerahi seorang anak yang tampan dan pintar, Nabi Ismail a.s. Dan cerita selanjutnya Anda sudah tahu. Nabi Ismail a.s tidak hanya meninggal tapi sang ayah sendiri diminta untuk menyembelihnya. Anda pasti tidak bisa membayangkannya. Bagaimana  seorang ayah yang sudah lama mendambakan anak, ketika dambaan itu akhirnya terwujud dan si anak sudah didepan mata, disuruh menyembelih.

Bagi kacamata kita, terutama di zaman now ini, hal itu tentu sangat musykil. Antara lain karena kita sudah terbiasa dengan sikap kemilikan, suka memiliki. Jangankan yang milik kita sendiri, milik orang lainpun sering kali kita ingin memiliki  atau kalau bisa kita rampas untuk kita sayang-sayang. Dan adakah hak milik yang lebih berharga dan lebih kita sayangi melebihi anak, belahan hati?

Baca Juga  Sandiaga Uno Jadi Pembicara Seminar Nasional Secara Virtual

Tapi, bagi Nabi Ibrahim a.s hal itu sama sekali tidak merasa musykil. Karena bagi sang kekasih Allah itu, gerak-gerik lahir maupun batinnya berawal dari Kekasih Agungnya, Allah SWT. Ialah yang pertama dan paling utama (bandingkan dengan kebanyakan kita yang memposisikan Allah di paling belakang.

Biasanya setelah kepepet!). Maka bukan Ismail belahan hatinya, bukan kenangan , pendambaaan dan kebahagiaannya bersama puteranya itu, bukan perintah menyembelihnya, bukan bayangan kehilangan sesudahnya dan bukan sesuatu apapun yang lain; yang pertama-tama saat diperintah-seperti setiap saat adalah sang kekasih yang memerintah.

Barangkali yang tersisa dari rasa sayang manusiawinya  hanyalah yang menampak dari pemberitahuannya kepada sang putera. “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam tidurku , aku menyembelihmu; maka pertimbangkanlah, apa pendapatmu?”

Dan , jawaban nabi Ismail a.s pun menunjukkan kualitasnya sebagai hamba Allah yang titik pandang  dan pertimbangannya bermula dariNya.  “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; engkau akan mendapatkan Insya Allah termasuk orang-orang yang tabah.”

Sungguh dua pengorbanan agung dari dua hamba Allah yang begitu total kepasrahannya. Demi Tuhan mereka , yang satu mengikhlaskan miliknya yang paling disayang: anaknya; yang lain mengikhlaskan nyawanya sendiri. Maka adalah nyata apa yang mereka nyatakan, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah milih Allah Tuhan semesta alam, tidak ada yang ikut memiliki bersamanya; dan dengan yang demikian itulah aku diperintah dan akulah yang pertama-tama menyerahkan diri kepadaNya”.

Baca Juga  Sekjen Gerindra: Kita Ajukan Cawapres Anak Muda Malah Dituduh Ini Itu

Alangkah jauhnya teladan itu dari kita. Sekedar mengorbankan sedikit saja dari apa yang kita anggap milik kita, rasanya berat bagi kita. Apalagi menyadari bahwa yang ada pada kita pada hakikatnya milik Allah semata. Kita memerlukan berbagai cara dan rekayasa dalam memotivasi diri kita untuk sekedar merelakan sebagian kecil “milik” kita.

Untuk membeli seekor kambing saja, kadang-kadang kita harus menghitung-hitung dan mempertimbangkan dari berbagai sudut, dari segi untung rugi, dan lain sebagainya. Seringkali setelah pertimbangan yang ruwet , akhirnya kita tidak jadi membeli kambing. Kalaupun akhirnya jadi membeli untuk kurban demi Allah, kitapun memasang harapan pahala berlipat ganda.

Itu tidak hanya yang berkaitan dengan harta “milik” kita yang bersifat materi. Diluar itu, ada yang lebih tidak tersadari oleh kebanyakan kita. Acap kali untuk memenuhi perintah Allah, kita begitu bathil berkorban. Misalnya untuk memenuhi perintah persaudaraan, kita enggan mengorbankan sedikit penghormatan kepada sikap orang lain atau sekedar mendengarkan pendapatnya.

Semua orang Islam yang naik haji, sudah pasti mendambakan ibadah hajinya mahbrur. Ironinya, karena keinginan yang begitu besar mendapatkan haji mahbrur, banyak yang enggan berkorban bagi kepentingan mulia lain yang juga diperintahkan Allah atau bagi menjauhi laranganNya. Tengoklah mereka yang bertengkar berebut shaf salat atau tempat-tempat mustajab. Atau yang lebih parah lagi, tengoklah mereka yang “mati-matian” berusaha mencium Hajar Aswad itu.

Baca Juga  Barang Bukti 8,8 Kilogram Sabu-Sabu di Musnahkan BNN

Tidak satupun diantara mereka yang rela berkorban untuk saudaranya sesama muslim, bahkan perilaku mereka yang menyikut kesana kemari itu, mengesankan seolah-olah mereka sedang melakukan “jihad fisabilillah” dan menganggap saudara –saudara mereka yang lain adalah musuh -musuh mereka.

Akhirnya dalam memaknai Hari Raya Idul Adha kali ini , pelajaran penting yang bisa diambil bahwa menjadi orang yang terlalu mencintai apa yang dianggap miliknya-termasuk dirinya, pendapat dan pendiriannya sendiri- sangat sukar dibayangkan dapat membuktikan cintanya kepada Allah melalui pengorbanan yang tulus.

Maka sikap yang terbaik tentu saja seperti yang diajarkan Pemimpin Agung kita nabi Muhammad SAW, ialah sikap sederhana, selalu tengah-tengah dalam segala hal termasuk dalam mencintai dan membenci. Dengan demikian kita akan dapat memurnikan pemujaan kita kepadaNya sendiri dan ringan berkorban untukNya. Semoga.

*) Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

Komentar

News Feed